The Parau Story
Seorang pria tua datang ke Parau setiap sore dan duduk di meja yang sama. Ia selalu memesan kopi paling murah, tetapi selalu meninggalkan tip yang lebih besar daripada harga kopinya.
Suatu hari, barista baru bertanya, “Pak, kenapa nggak sekalian pesan yang mahal? Toh tip Bapak besar.”
Pria itu tersenyum. “Karena saya suka melihat orang bingung.”
Barista tertawa, mengira itu lelucon.
Sore berikutnya, pria itu datang bersama seorang pemuda berjas. Mereka berbicara tentang investasi, properti, dan sebuah perusahaan yang baru saja dijual.
Sebelum pergi, si pemuda berkata, “Saya masih nggak mengerti kenapa Bapak menjual semuanya. Bapak bisa menghasilkan lebih banyak uang dalam lima tahun ke depan.”
Pria tua itu mengaduk kopinya.
“Menurutmu, berapa harga satu jam hidupmu?”
Pemuda itu menjawab, “Tergantung berapa yang bisa saya hasilkan dalam satu jam.”
“Kalau begitu, kamu tidak punya satu jam hidup. Kamu punya satu jam kerja.”
Pemuda itu terdiam, lalu tertawa kecil. “Saya mengerti maksud Bapak.”
“Tidak,” kata pria tua itu. “Kamu hanya mengerti kalimatnya.”
Mereka berpisah.
Beberapa minggu kemudian, pria tua itu tidak datang lagi. Barista mengira ia sakit, sampai seorang perempuan datang membawa kabar bahwa pria itu meninggal dunia.
Ia meninggalkan seluruh hartanya kepada sebuah yayasan, kecuali satu amplop untuk Parau.
Di dalamnya ada uang tunai dan secarik kertas.
Untuk orang yang setiap hari membuat kopi. Belilah sesuatu yang kamu inginkan, bukan sesuatu yang bisa kamu jual kembali.
Barista membaca kalimat itu berulang kali.
Malamnya, ia pulang dan mendapati ibunya masih terjaga di ruang tamu. Sudah berbulan-bulan ia berjanji mengajaknya makan malam, tetapi selalu menunda karena ingin mengumpulkan uang lebih banyak.
Ia akhirnya mengajak ibunya keluar.
Di restoran, ibunya memesan makanan paling murah. Ketika barista bertanya kenapa, ibunya menjawab, “Ibu sudah kenyang.”
Ia tahu ibunya berbohong. Ia juga tahu mereka tidak punya banyak uang.
Jadi ia memesan dua porsi makanan yang lebih enak.
Ibunya memandangnya lama sekali, lalu berkata, “Kamu tidak perlu menghabiskan uang untuk membuat Ibu bahagia.”
Barista tersenyum.
“Aku tahu, Bu. Aku cuma tidak mau menunggu sampai punya cukup uang untuk mulai hidup.”
Dalam perjalanan pulang, ia baru menyadari sesuatu yang aneh.
Selama ini, ia mengira pria tua itu sedang mengajarinya cara menggunakan uang.
Padahal pria itu sedang mengajarinya mengenali alasan-alasan yang ia buat untuk tidak melakukan sesuatu.
Dan yang paling sulit diterima adalah ini:
Kita sering menyebut sesuatu sebagai pengorbanan demi masa depan, padahal diam-diam kita sedang mengorbankan orang-orang yang mungkin tidak akan ada lagi ketika masa depan itu akhirnya tiba.
Updated 13 October 2026Read by 34 people
Want to contribute a story? Message the Parau admin.